Sejumlah warga yang berhasil melarikan diri ke Tawila mengungkapkan pengalaman memilukan setelah pengepungan selama satu setengah tahun berakhir dengan jatuhnya kota itu ke tangan Pasukan Dukungan Cepat (RSF).
Tawila, sebuah kota kecil di Darfur Utara yang terletak di antara El-Fasher dan Kutum, berada sekitar 60–70 kilometer di barat daya El-Fasher. Wilayah ini merupakan daerah semi-gurun yang dikelilingi perbukitan batu khas lanskap Darfur, dan kerap menjadi tempat perlindungan sementara bagi warga sipil yang menghindari bentrokan antara RSF dan militer Sudan (SAF).
Menurut laporan Al Jazeera pada Senin (3/11/2025), para pengungsi menceritakan bagaimana mereka melewati jalan-jalan yang dipenuhi jenazah, keluarga yang tercerai-berai, serta hari-hari panjang tanpa makanan dan air.
Salah satu penyintas, Fatima Yahya, mengatakan ia masih trauma setelah tiga hari kelaparan sebelum akhirnya berhasil melarikan diri dari El-Fasher.
“Jenazah ada di mana-mana—di jalan, di dalam rumah, bahkan di depan pintu,” tuturnya kepada Al Jazeera.
Fatima kehilangan suami dan pamannya, sementara banyak warga lain belum diketahui nasibnya.
RSF berhasil merebut El-Fasher pada 26 Oktober, menjadikan kota besar terakhir yang sebelumnya dikuasai militer Sudan kini berada sepenuhnya di bawah kendali mereka.
Kota berpenduduk lebih dari satu juta jiwa itu kini berubah menjadi wilayah penuh kehancuran, dengan laporan tentang pembunuhan seketika, penjarahan besar-besaran, dan kekerasan seksual yang meluas.