Tersindir Rusia, Donald Trump Perintahkan Pentagon Uji Coba Senjata Nuklir

Tersindir Rusia, Donald Trump Perintahkan Pentagon Uji Coba Senjata Nuklir

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan Departemen Pertahanan (Pentagon) untuk segera melakukan uji coba senjata nuklir baru. Perintah ini disampaikan setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan keberhasilan negaranya dalam menguji rudal jelajah bertenaga nuklir yang disebut memiliki jangkauan tak terbatas.

Dalam pernyataannya yang disiarkan oleh Kremlin pada Minggu (26/10), Putin mengungkapkan bahwa uji coba penentu rudal Burevestnik (Storm Petrel) telah rampung. Rudal tersebut diklaim mampu terbang sejauh 14.000 kilometer dan menghindari sistem pertahanan rudal apa pun yang dimiliki negara lain.

Ini adalah senjata unik yang tidak dimiliki siapa pun di dunia,” ujar Putin saat bertemu para pejabat militer di markas komando Rusia, sambil memerintahkan pembangunan infrastruktur untuk penempatan senjata tersebut di angkatan bersenjata Rusia.

Kepala Staf Militer Rusia, Valery Gerasimov, menyebut bahwa jarak tempuh 14.000 kilometer bukan batas maksimum rudal itu. “Burevestnik dapat mencapai target yang terlindungi dengan presisi tinggi, di mana pun lokasinya,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Trump menyindir Putin dalam komentarnya di atas pesawat kepresidenan Air Force One saat kunjungan ke Asia, Senin (27/10). Ia menilai Putin seharusnya fokus mengakhiri perang di Ukraina, bukan berlomba memperkuat senjata nuklir.

Perang di Ukraina seharusnya berakhir sejak lama. Bukannya uji coba rudal, seharusnya dia berupaya menghentikan konflik itu,” ujar Trump, seperti dikutip dari AFP.

Namun, Putin tak menanggapi sindiran tersebut. Ia justru melanjutkan demonstrasi kekuatan militer dengan mengawasi uji coba pesawat nirawak bawah air bertenaga nuklir, Poseidon, pada Rabu (29/10).

Putin menyebut Poseidon sebagai sistem persenjataan bawah laut tak berawak dengan tenaga nuklir yang memiliki kecepatan tinggi dan jangkauan global, serta tidak dapat dicegat oleh sistem pertahanan negara mana pun.

Menurut laporan TASS, torpedo nirawak tersebut mampu menyelam lebih dari 1 kilometer dan melaju hingga 70 knot (sekitar 130 km/jam) tanpa terdeteksi radar. Diuji pertama kali pada 2018, Poseidon dikabarkan dapat membawa hulu ledak nuklir berkekuatan dua megaton.

Putin menegaskan, “Tidak ada negara lain yang memiliki teknologi seperti ini, dan kemungkinan besar tidak akan ada dalam waktu dekat.