Zonamedia.my.id - Beredar rekaman yang menunjukkan sekelompok pria tertawa saat melintasi barisan jenazah di jalanan Kota el-Fasher, Sudan. Dalam video itu, tampak simbol Rapid Support Forces (RSF) pada pakaian mereka, sementara salah satu pria menyebut peristiwa tersebut sebagai genosida sembari membawa senjata.
Kejadian itu diduga merupakan bagian dari aksi kekerasan besar yang telah menelan korban jiwa diperkirakan lebih dari 2.000 orang di el-Fasher bulan lalu. Pada Senin (03/11), Mahkamah Pidana Internasional (ICC) resmi membuka penyelidikan terkait dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan pasukan RSF.
Kota el-Fasher menjadi titik strategis karena merupakan wilayah pertahanan terakhir militer Sudan di Darfur. Konflik antara tentara Sudan dan RSF telah berlangsung sejak pecahnya koalisi pemerintahan pada 2023, dan selama dua tahun terakhir, konflik ini menumbalkan lebih dari 150.000 nyawa.
Kedua pihak sama-sama dituding melakukan tindakan kekerasan berat, dan kondisi tersebut kembali memuncak setelah RSF berhasil menguasai el-Fasher. Selama berbulan-bulan, kota tersebut terisolasi akibat pengepungan dan pemblokadean akses bantuan bagi warga.
Citra satelit menunjukkan adanya pembangunan benteng tanah yang mengelilingi el-Fasher untuk memutus jalur keluar masuk kota dan menghentikan suplai logistik. Sejumlah serangan terhadap tempat ibadah dan kamp pengungsian juga dilaporkan, mengakibatkan puluhan korban jiwa.
Selain itu, beredar rekaman video yang memperlihatkan warga sipil disiksa karena dituduh mencoba menyelundupkan makanan ke dalam kota yang terkepung. Situasi memburuk setelah RSF masuk lebih jauh ke dalam kota dan merebut markas Divisi Infanteri ke-6 pada 26 Oktober.
Usai pengambilalihan tersebut, muncul dokumentasi visual yang menunjukkan korban tewas di berbagai lokasi, termasuk gedung universitas tempat puluhan mayat ditemukan. Sejumlah laporan saksi juga menggambarkan tindakan kekerasan langsung terhadap warga yang tidak bersenjata.
Analisis terbaru dari Yale Humanitarian Research Lab memperlihatkan citra satelit yang menunjukkan tumpukan objek menyerupai tubuh manusia dan bekas perubahan warna di beberapa titik yang diduga merupakan darah. Kesaksian warga yang selamat menyebut adanya eksekusi massal, penjarahan, hingga tindakan kekerasan terhadap perempuan.
Peristiwa di el-Fasher semakin memperpanjang daftar tragedi kemanusiaan di Sudan, sementara perhatian dunia internasional terus diarahkan pada upaya penegakan hukum dan penyelamatan warga sipil yang masih terjebak dalam wilayah konflik.